Cerita Dewasa 2017 – Pesta Sex Para Mahasiswi

6136 views
Agen Betting TerpercayaAgen Betting Terpercaya

Cerita Dewasa 2017 – Pesta Sex Para Mahasiswi | Jujur aku dan teman temanku adalah penggila sex kita blak blakkan soal sex dari berbagi pengalaman apa saja dilakukan sama pacar, baru bulan kemarin aku merasakan pesta seks di sebuah villa dan kali ini aku mau berkunjung ke villa tersebut dengan teman satu kampusku karena 2 hari besok kami libur kuliah jadi kami refresing di tempat itu. cerita dewasa  mahasiswi terbaru, cerita mesum ML Mahasiswi, Cerita Hot Mahasiswi.

Cerita Dewasa 2017 - Pesta Sex Para Mahasiswi Cerita Dewasa 2017 - Pesta Sex Para Mahasiswi Cerita Dewasa 2017 - Pesta Sex Para Mahasiswi Cewek Lokal Belah Memek Sambil Ngangkang Bugil 2Cerita Dewasa 2017 – Pesta Sex Para Mahasiswi | Aku dan 2 temanku Fany dan Tanti , kami kalau kemana mana selalu bersama sama ada satu lagi Lala kami berempat selalu bersama sama tapi kali ini Lala kaena ada urusan keluarga jadi gak bisa ikut bersama kami ke villa. Dari kami berempat fany lah yang mempunyai body Oke dengan ukutan toket yang besar serta body ramping pastinya setiap lelaki yang melihatnya pikirannya pasti ke ranjang, tapi fany orangnya juga begitu mudah kalau di ajak bercinta kalau dia suka sama lelaku tersebut.

 

Cerita Dewasa 2017 – Pesta Sex Para Mahasiswi | Sedangkan Tanti mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang Tanti , bodynya pun tidak kalah dari Fany walaupun buah dada nya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Tanti termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.

Cerita Dewasa 2017 – Pesta Sex Para Mahasiswi | Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party atau sex party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Fany protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Tanti yang ikut mendukung Fany karena pacarnya juga tidak boleh diajak.

Emangnya lu ngundang siapa aja sih Ci, masa si Silvi aja ga boleh ikutan? kata Tanti .

Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih timpal Fany.

Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh.

Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Hery dan Wisnu.

Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Hery lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Hery tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku,

Pak Hery seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Fany yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Wisnu.

Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Tanti yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.

Eh.. sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk ajakku pada mereka.

Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya.

Wei.. gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana? tegur Tanti .
Iya Ci, lagian kan kalo si tua Hery itu dateng gimana tuh sambung Fany.

Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Hery udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti bujukku sambil menarik tangan Fany.

Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Fany baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Tanti yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.

Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.

Ci, sekalian ambilin kita minum yah pinta Fany.

Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.

Ok, it’s the showtime gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Hery dan Wisnu segera kesini karena pesta akan segera dimulai.

Iya neng, kita segera ke sana sahut Wisnu sambil menutup gagang telepon.

Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.

Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng kata Pak Hery.

Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng ujar Wisnu merujuk pada Tanti .
Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok kataku yang penting sekarang surprise buat mereka dulu.

Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Fany. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Tanti sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Fany masih berendam di air.

Ver, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih pintaku padanya.
Lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana.

Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Hery dan Wisnu yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Fany memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.

Kenapa Ci, ada perlu apa emang? tanyanya.

Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka.

Sebelum Fany sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Fany yang terkejut tentu saja meronta-ronta, namun pemberontakan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.

Pak Hery dengan gemas meremas buah dada kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Wisnu berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Fany.

Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng komentar Wisnu sambil menyentuhkan lidahnya ke liang memek Fany, diperlakukan seperti itu Fany cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Hery begitu kokoh.

Hei, jangan rakus dong Tar, dia kan buat Pak Hery, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana kataku padanya.
Mengingat kembali sasarannya semula, Wisnu menurunkan kembali kaki Fany dan bergegas menuju ke kolam.

Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu godaku.

Setelah Wisnu keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Hery langsung menghempaskan dirinya bersama Fany ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Tanti dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka.

Tanti terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Wisnu. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Wisnu, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.

Jangan.. tolong! jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Wisnu.

Wisnu dengan santai membawa Tanti ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Tanti terus berontak saat Wisnu menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Tanti tentu saja bukan tandingan Wisnu yang sudah kesurupan itu.

Perlawanan Tanti mengendur setelah Wisnu mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Wisnu menggerayangi tubuh Tanti , tapi aku dapat melihat Wisnu memeluk erat Tanti sambil melumat bibirnya.

Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Hery dan Fany untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Tanti , Fany juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Hery. Waktu aku menghampiri mereka Pak Hery sedang menjilati paha mulus Fany sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada buah dada dan kemaluan Fany.

Aduh Ci.. tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini.. ahh! kata Fany ditengah desahannya.
Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong kataku seraya melumat bibirnya.

Aku berpagutan dengan Fany beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Hery mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas buah dada Fany secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok memeknya. Desahan Fany tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.

Hhhmmhh.. tetek Neng Fany ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng kata Pak Hery disela aktivitasnya.

Memang sih diantara kami bereempat, buah dada Fany termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok kontol mereka diantara himpitannya. Pak Hery pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Fany ditelan olehnya.

Puas menetek pada Fany, Pak Hery bersiap memasuki memek Fany dengan kontolnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Fany dia memegang kontolnya untuk diarahkan ke liang itu.

Ouch.. sakit Ver, duh kasar banget sih babu lu Fany meringis dan mencengkram lenganku waktu kontol super Pak Hery mendorong-dorongkan kontolnya dengan bernafsu.

Tahan Ver, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja kataku sambil meremasi kedua buah dada nya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Hery.

Pak Hery menyodokkan kontolnya dengan keras sehingga Fany pun tidak bisa menahan jeritannya, Fany kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Hery mulai menggarap Fany dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Fany menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh..aku mendesah merasakan jari-jari Fany menggerayangi kemaluanku.

Aku lalu naik ke wajah Fany berhadapan dengan Pak Hery yang sedang menggenjotnya. Fany langsung menjilati kemaluanku dan Pak Hery menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Fany, dia meraih buah dada ku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok buah dada yang satunya.

Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga payudaraku pun makin membusung Tanti . Ternyata dia tidak langsung mencaplok buah dada ku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Fany pada Memek aku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Fany juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.

Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Hery merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.
Aahh.. oohh.. gua dah mau.. Pak! erang Fany bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.

Melihat reaksi Fany, Pak Hery semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Fany, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Fany mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Fany. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Hery semakin liar.

Setelah aku ambruk ke samping, Pak Hery menindih Fany dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Fany, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi buah dada montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.

Hhmmpphh.. sluurrpp.. cup.. cup.. demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Hery cukup pengertian akan kondisi Fany yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan.

Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir Memek aku dan menyentuhkan kepala kontolnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke Memek aku . Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.

Permainan Pak Hery sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi buah dada ku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Fany terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku.

Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan kontol sedangkan Fany dikocok dengan jari-jarinya. Fany membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Hery bermain lebih leluasa.

Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget! ceracauku sambil merem-melek.

 

Oohh.. terus Pak.. kocok terus Fany terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.

Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. udah mau aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks.
Neng Citra.. Neng Fany.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh geramnya dengan mempercepat gerakkannya.
Kontol itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum.

Kemudian dia lepaskan kontolnya dari Memek aku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Fany berlutut dan mengoral kontolnya yang berlumuran cairan cintaku. Fany berlutut mengemut kontol basah itu sambil tangan kanannya mengocok memeknya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Fany menikmati kontol Pak Hery. Fany mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati sosis itu.

Di tengah kulumannya mendadak Fany merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari memeknya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Hery mencabut kontolnya dari mulutku lalu mengerang panjang.

Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, kontol itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan

Sabar, sabar dong neng, bisa putus kont*l bapak kalo rebutan gini katanya terbata-bata.
Setelah tidak ada yang keluar lagi Fany menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Hery jatuh tepat di dada Fany.

Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Tanti dan Wisnu. Aku tiba di kolam melihat Wisnu sedang menggarap tubuh mungil Tanti . Di daerah dangkal Tanti dalam posisi berpegangan pada tangga kolam,

Wisnu dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot kontolnya pada memek Tanti . Kedua buah dada Tanti bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Wisnu yang buruk rupa tapi bisa ngent*t dengan gadis seimut itu.

Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih? sapaku.

Edan Ci.. gua sampe klimaks tiga kali.. aahh! desah Tanti tak karuan.

Neng.. temennya enak banget, udah cantik, mem*knya seret lagi komentar Wisnu sambil terus menggenjot.

Tanti tak kuasa menahan rintihannya setiap Wisnu menusukkan kontolnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan kontol penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Wisnu menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Tanti naik turun berkali kali mengikuti gerakan Wisnu.

Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Tanti , Wisnu memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.

Sini neng, mendingan dipuasin pake kont*l saya aja daripada ngocok sendiri .

Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya.

Gila nih kont*l, masih keras juga..udah keluar berapa kali tadi? tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih lapar itu.

Baru sekali tadi.. abis saya masih nungguin neng sih godanya saambil nyengir.

Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Tanti yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.

Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpTanti melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya.

Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Wisnu ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala kontolnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya.

Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Wisnu mengehentakkan pinggulnya hingga kontolnya tertanam semua dalam Memek aku . Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya.

Kalau dibandingkan dengan Pak Hery, memang sodokan Wisnu lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Hery yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku.

Kufokuskan pandanganku dan astaga.. ternyata si Fany, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai buah dada nya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis.

Adegan itu ditambah serangan Wisnu yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga payudaraku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Wisnu memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.

Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Wisnu yang jatuh bersandar di pinggir kolam.

Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua buah dada ku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Fany dan Pak Hery sudah tak nampak lagi, di sisi lain Tanti yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.

Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Fany, filenya akan disimpan dalam komputer Fany untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas.

Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Hery dan Wisnu kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai.

Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Tanti melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Tanti .

Tanti sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Wisnu menyusupkan tangannya ke kimono Tanti meraih buah dada nya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Hery menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Tanti dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu.

Perlakuan ini membuat rontaan Tanti terhenti, kini dia malah mengelus-elus kontol Wisnu yang menegang sambil memejamkan mata menikmati memeknya dijilati Pak Hery dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Hery menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Tanti , lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya.

Tanti tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan kontol Wisnu ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Fany dengan kamera-HP nya.

Tanti terengah-engah melayani kontol super Wisnu, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Fany sebagai juru kameranya. Pak Hery yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Tanti , sebagai pemanasan sebelum memasukinya.

Kemulusan tubuh Tanti terpampang begitu Wisnu menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Hery mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Tanti yang sudah kesurupan setan seks itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu

Ahh.. awww.. Pak enak banget.. masukin aja sekarang! rintihnya manja sambil meraih kontol Pak Hery yang masih bergesekan dengan bibir memeknya.

Pak Hery pun mendorong kontol itu membelah kedua belahan kemaluan Tanti diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan buah dada kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Fany yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri.

Tanti nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Wisnu yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua buah dada nya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Wisnu, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Tanti tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada kontol Wisnu.

Serangan Pak Hery pada memek Tanti semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat.
Aaakhh..aahh! jerit Tanti dengan melengkungkan tubuhnya ke atas.

Tanti telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Hery yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Fany, difokuskan terutama pada wajah Tanti yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Wisnu menaikkan Tanti ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali memek Tanti dikocok oleh kontol Wisnu.

Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Wisnu. Wisnu yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Tanti menikmati pijatan kemaluannya. Pak Hery mengistirahatkan kontolnya sambil menyusu dari kedua buah dada Tanti secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam Memek aku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.

Bosan dengan gaya berpangkuan, Wisnu berbaring telentang dan membiarkan Tanti bergoyang di atas kontolnya. Kemudian dia menyuruh Fany naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Fany yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Wisnu tertutup oleh daster transparan Fany, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju buah dada nya.

Pak Hery yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berciuman penuh nafsu. Dengan tetap berciuman Pak Hery memasukkan kontolnya ke Memek aku , cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi kontolnya keluar masuk dalam Memek aku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam.

Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi buah dada ku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari.

Aku melihat Wisnu masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Fany sudah bertukar posisi dengan Tanti . Sekarang mereka saling berhadapan, Fany bergoyang naik turun diatas kontol Wisnu sambil berciuman dengan Tanti yang mekangkangi wajah Wisnu. Tanti membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Wisnu sampai terdengar suara sluurrpp.. sshhrrpp..

Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya kontol itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam.

Aku sudah setengah sadar ketika Pak Hery menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Tanti sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air.

Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Wisnu menyodomi Fany yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Fany maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Tanti yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Tanti untuk membangunkannya.

Gimana Dah.. puas semalem? tanyaku .

Gila gua dientotin sampe kelenger, barbar banget tuh dua orang, eh.. omong-omong pada kemana yang lain si Fany juga ga ada?

Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk.. udah lengket gini ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.

Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Fany dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Fany sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi.

Wisnu sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Hery berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus bekerja.

Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Tanti dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Tanti . Demikian juga Tanti dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain.

Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.

Uuhh.. Ci! dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit.

Tangan Tanti yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Fany dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Tanti mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Tanti supaya bisa lebih nyaman menonton Fany.

Aku melihat wajah horny Fany yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Hery pada memeknya, sementara Wisnu hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan kontolnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan.

Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Fany. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Tanti pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan buah dada ku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Tanti yang mengobok-obok Memek aku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.

Aku masih menikmati jari-jari Tanti bermain di Memek aku ketika Wisnu yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Fany berjalan ke arahku, kontolnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi.

Tangannya mendarat di buah dada kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke buah dada kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke Memek aku .

Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di Memek aku bukan lagi tangan Tanti tapi kontol Wisnu yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Tanti dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.

Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu.

Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Tanti dan Fany keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun.. ternyata mereka sedang bermain short time sambil menungguku.

Tanti yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Hery menyodokinya dari belakang sambil memegangi buah dada nya yang tidak terbuka.

Sementara di pintu mobil, Fany berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Wisnu yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Wisnu menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi buah dada dan pantatnya.

Weleh.. weleh.. masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita kataku sambil geleng-geleng kepala.

Tenang neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok tanggap Pak Hery dengan terengah-engah.

Akhirnya setelah 15 menitan Pak Hery melepas kontolnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Tanti menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Tanti .

Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu.

Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Hery menggeram dan cepat-cepat kuberikan kontol itu pada Tanti yang segera memasukkan ke mulutnya. Pria itu mendesah panjang sambil menekan kontolnya ke mulut Tanti , Tanti sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Tanti tidak terlalu lama mengisapnya.

Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah? ujar Fany yang sudah merapikan kembali pakaiannya.
Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Lala yang hari ini absent!

Tags: #cerita dewasa #cerita mesum #cerita ml #cerita ngentot #cerita porno #cerita sex #daun muda #terbaru 2017