Cerita Dewasa – Dosen Cantik Bugil Bikin Hony

20900 views

Cerita Dewasa – Dosen Cantik Bugil Bikin Hony | Cerita sex terbaru ini terjadi saat aku waktu masih kuliah. Cerita yg coba ingin aku bagi kepada kawan-kawan semua adalah pengalaman ku dengan seorang dosen kuliahku. Ia mengajar mata kuliah bahasa inggris. Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Roy, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yg sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.

Cerita Dewasa - Dosen Cantik Bugil Bikin Hony Cerita Dewasa - Dosen Cantik Bugil Bikin Hony Cerita Dewasa - Dosen Cantik Bugil Bikin Hony Cerita Dewasa Pengalaman Yang Indah Saat Di HotelCerita Dewasa – Dosen Cantik Bugil Bikin Hony | Kisah ini Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan dosen bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Merlin masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yg ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yg mengajar di sekolah kami.

Cerita Dewasa – Dosen Cantik Bugil Bikin Hony | Sekolahku itu cuma terdiri dari 2 kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Merlin, kami rupanya tdk sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Cerita Dewasa – Dosen Cantik Bugil Bikin Hony | Tiba-tiba Ibu Merlin teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yg tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Merlin pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Merlin memanggilku.

“Kenapa Roy”
“Ah.. tdk apa-apa”, jawabku.

(sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Merlin di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).

“Ayo Roy kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Merlin.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Roy”.

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Merlin bahwa aku suka kepadanya,

“Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku.

Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Merlin terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Merlin ternyata sudah cerai dengan suaminya yg bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Merlin.

Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Merlin mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Merlin menolak. Aku merasa tdk enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Merlin, dengan cepat Ibu Merlin hendak menolak tetapi ada kejadian yg tak terduga, Ibu Merlin menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yg terpendam. Ternyata Ibu Merlin tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yg sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yg besar, Ibu Merlin terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yg sangat seru.

Ibu Merlin memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Merlin membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yg kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yg modelnya amat seksi.

Karena tdk sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Merlin setengah telanjang, aku tdk mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yg tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Merlin,

“Roy kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Roy, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yg juga mulai naik

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Merlin. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yg amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yg juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Merlin menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Merlin keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya.

Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yg besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yg tdk begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yg membuat Ibu Merlin makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.

“Aahh… Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh…”

Tanpa sungkan-sungkan Ibu Merlin mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yg menonjol akibat batang kemaluanku yg ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Merlin seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

“Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?”, tanyanya diantara kecipak ciuman yg membara dan mulai liar.

Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yg tampak menggairahkan itu. Biar tdk merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..” Ibu Merlin pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku.

Batang kemaluanku yg tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Merlin mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

“Gantian dong..” Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yg mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. “Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?”, tanyaku sambil menciumi payudaranya.

Ibu Merlin tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yg kenyal dan selangkangannya yg mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tdk tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yg kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Merlin agak gemetar. seksigo

“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya.

Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yg ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Merlin menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan.

“Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yg diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yg berkeringat.

“Sekarang Ibu Merlin berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!” Aku mengatur badannya dan Ibu Merlin menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Gaya apa lagi ini?”, tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Merlin kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yg tiada taranya, yg mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya.

Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

“Capek?”, tanyaku.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku”.
“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yg menggemaskan.
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Merlin yg di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Merlin tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yg makin lama kian cepat. Payudaranya yg ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme.

Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Merlin kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku.

“Oh Ibu Merlin.., aku mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya.

Ibu Merlin kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yg baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Merlin harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Merlin kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Merlin mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Merlin makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yg membayang.

“Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Merlin menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.

Aaahh..! Ibu Merlin dengan posisi yg menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yg besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yg seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Merlin mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yg tersendat membuatku makin tdk sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya.

“Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Merlin meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui.

Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.

“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Merlin mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yg masih begitu rapat.

Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yg membuat tubuh Ibu Merlin terlonjak dan nafas Ibu Merlin seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Merlin tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yg tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Merlin.

“Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”. Ketika Ibu Merlin membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Merlin.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu Merlin terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yg juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yg begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar.

“Ibu Merlin.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku.

Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu..,

“Creet.., suuurr.., ssuuur..”
“Oughh.., Roy.., nikmat..”, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku.

Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tdk kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya,

“Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yg tumpah di dalam mulutnya.
“Aaahkk.., ooough”, ujarku puas.

Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Merlin dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Merlin dan aroma kemaluan Ibu Merlin di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Merlin, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Merlin menekan pantatku dari belakang.

“Ohm, masuk.., augh.., masukin”

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Merlin semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yg kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Merlin memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau,

“Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Roy”

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Merlin, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Merlin sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Merlin segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Merlin makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Ibu Merlin melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Merlin tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yg kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yg basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme

Tags: #cerita dewasa #cerita mesum #cerita ml #cerita ngentot #cerita porno #cerita sex #daun muda #terbaru 2016