Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal

55868 views
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal | Panggil saja namanya Budhe Haryani, usianya kira kira 53 an, seorang wanita paruh baya yg berasal dari sebuah desa di Jawa Tengah. Meski sudah mempunyai cucu, wanita baya ini memang benar-benar masih membangkitkan gairah birahiku. Budhe Haryani berprofesi sebagai seorang pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga orang asing di Jakarta, sedangkan aku seorang pekerja swasta di Jakarta yg tinggal di tempat kos.

japanese-av-shaved-bald-pussy-compilation-www-gutteruncensored-com-001 Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal Japanese AV Shaved Bald Pussy Compilation www

Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal | Aku menyukai wanita baya memang sejak lama. Jika dorongan nafsuku sudah tak terbendung aku pergi ke kafe-kafe sekedar mencari wanita yg sesuai dengan seleraku untuk kujadikan pelampiasan. Selain itu, aku lebih suka menyendiri cari tempat kos, karena aku punya kebiasaan “aneh”. Aku tidak bisa tidur kalau belum onani.

Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal | Itulah sebabnya di laptopku ada koleksi ratusan gambar bugil wanita wanita baya yg kujadikan sebagai obyek fantasiku saat beronani. Kadang aku suka nginap di Hotel L di kawasan Taman Sari. Kalau nafsuku sudah di ubun-ubun aku ke sana dan minta tolong pegawai hotel untuk mencarikan perempuan. Aku pernah ditawari temen tidur oleh pegawai hotel itu.

Cerita Dewasa Memek Mulus Bude Binal | Pertama aku dikasih foto wanita bugil yg muda-muda dan cantik, tapi langsung kutolak.

“Mas, seleraku bukan ini. Aku suka yg STW- STW gitu. Fotonya ada nggak?!” tanyaku.
“Ada, Bang. Tapi saya telepon temen saya dulu ya”, kata si pegawai. Memang benar.

Cerita Mesum | Tak lama setelah itu aku dikasih koleksi foto-foto PSK yg termasuk kategori STW. Tapi malam itu aku tak berselera sama foto-foto yg ditunjukkan karena kurus- kurus.

“Bang, mau nggak sama ibu ibu tukang pijat? Orangnya agak gemuk, bang”, si pegawai hotel menawarkan solusi.
“Mana?”
“Ada, Bang. Tunggu ya”. Sekitar setengah jam pintu kamarku diketuk.

Begitu kubuka, gairahku langsung naik begitu kulihat body emak tukang pijat yg agak gembrot, pas dengan seleraku. Namanya Bu Romlah. Ia memakai kebaya khas Madura. Akhirnya malam itu aku menyetubuhi Bu Romlah, nenek-nenek tukang pijat, sampai 2 kali. Badanku terasa segar kembali karena habis dipijat plus plus sama Bu Romlah.

Paginya aku check out untuk pulang ke tempat aku kos. Inilah adalah awal mula aku kenal Budhe Haryani. Waktu itu masih pagi-pagi sekali aku sudah berada di halte busway dekat Olimo. Di situ ada seorang wanita paruh baya yg sama- sama menunggu busway. Rupanya dia mau menelepon majikannya, tapi pulsanya habis. Dengan sopan kutawari dia HP-ku untuk dipakainya. Tampaknya majikannya minta agar dia cepat-cepat pulang. Untungnya dia punya tujuan yg sama denganku, yaitu ke daerah Blok S.

Akhirnya aku ambil inisiatif naik taksi agar cepat sampai. Di dalam taksi sekilas kulirik dia. Hmm, ibu-ibu ini montok juga, pikirku. Dia sebutkan namanya, Haryani. Aku juga di beri no HP-nya. Budhe Haryani turun di sekitar jalan Senopati yg aku tahu sebagai pemukiman orang-orang kaya, sementara aku melanjutkan ke tempat kosku. Karena semalaman “bertarung habis- habisan” dengan Bu Romlah, sampai kos aku langsung tidur lagi.

Malamnya kutelepon Budhe Haryani. Aku janjian sama dia untuk ketemuan hari Minggu karena sama majikannya dia dikasih libur bebas setiap hari Minggu. Hari Minggu kemudian aku ketemuan sama Budhe Haryani di Blok M. Mula-mula kutraktir dia makan-makan. Saat itu sebenarnya otakku udah mulai kotor. Aku berpikir keras bagaimana caranya bisa meniduri wanita baya yg montok ini. Kutawari dia main ke tempat kosku yg suasananya individual banget. Bebas karena yg punya kos tidak tinggal di situ.

“Bu, bagaimana kalau istirahat di kosan saya?”, aku mulai melancarkan aksiku.
“Ahh, mas ini ada ada saja. Apa kata tetangga mas nanti? Masa bawa nenek-nenek kayak saya?”. Dalam hati aku bersorak,
“Ah, kayaknya bisa niihh”. Setelah membujuknya beberapa kali, akhirnya mau juga Budhe Haryani kuajak ke kosku.

Sampai di kos otakku makin ngeres. Tapi aku masih berusaha menahan diri dengan mengajaknya ngobrol-ngobrol ringan. Dari ceritanya, rupanya Budhe Haryani ditinggal suaminya.

“Wahhh … jadi niih”, aku bersorak dalam hatiku.

Kemudian sambil ngobrol aku sengaja nyalain laptop dan ku-setting screen savernya dengan foto STW-STW bugil. Otakku makin ngeres saja. Untuk memancing nafsu Budhe Haryani kubuka akun facebookku yg isinya full dengan foto-foto bugil wanita wanita baya seleraku.

“Ah, mas ini aneh,,kok gambarnya orang-orang tuwek (tua) semua?!”, kata Budhe Haryani dengan logat Jawanya.

Dia yg saat itu memakai baju setelan blus terusan dengan rok selutut dipadu dengan celana sejenis stocking ketat warna hitam, membuat bokongnya tampak benar-benar semok dan besar. Aku makin terangsang jadinya.

Kemudian aku teringat kalau aku masih menyimpan sebungkus jamu stamina pendongkrak birahi. Aku pura pura ke belakang, lalu cepat-cepat kuminum jamu itu. Sambil menunggu jamunya bereaksi aku meminimize facebookku.

“Mas nggak punya kaset film apa?”, tanya Budhe Haryani.
“Nggak ada, Budhe. Adanya film aneh. Emang budhe mau liat?”.
“Aneh gimana, mas?” Aku memang cuma punya DVD porno STW-STW.
“Oh ya, Budhe anggap aja rumah sendiri. Mau kubikinkan minum, Budhe?”.
“Nggak usah, mas. Nanti tak bikin sendiri aja”. Beberapa menit kemudian jamu yg kuminum mulai bereaksi.

“Senjataku” perlahan- lahan mulai ereksi, apalagi melihat pantat Budhe Haryani yg begitu menggairahkan saat ia nungging hendak mengambil gelas. Dalam balutan birahi otak ngeresku berkata, “Awas kamu, Budhe. Bokongmu pasti kujilati nanti”.

“Kok sepi, mas? Nanti kita dikira macam macam lagi”, kata Budhe dengan nada khawatir.
“Ah, emang kenapa, Budhe? Kalau macam- macamnya sama ibu-ibu bahenol kayak Budhe gini siapa yg nggak suka?”, aku mulai melancarkan rayuan maut.
“Mas ini ada ada aja”, kata Budhe Haryani sambil duduk di sebelah TV dengan kaki bersimpuh menyamping.

Di mataku nammpak makin sexy aja Budhe ini. Akhirnya aku mulai memasang perangkap untuk bisa membuat Budhe Haryani terangsang. Aku sengaja memutar film porno dengan adegan eorang nenek-nenek Thailand yg agak gembrot bersetubuh dengan laki laki yg pantasnya jadi anaknya…

“Aah, mas ini nakal yaa … Awas kalau macem- macemin Budhe”. Dengan Budhe berkata begitu justru membuat aku makin gelap mata.

Kudekati Budhe, lalu kupegang pundaknya.

“Jangan, mas. Nanti di liat orang”, Budhe Haryani sedikit beringsut menghindariku.
“Di sini nggak ada orang, Budhe”, aku makin nekat menempel tubuh Budhe Haryani dengan nafas memburu karena dilanda nafsu.
“Aku nggak kuat, Budhe …”.
“Jangan, mas. Budhe udah nenek- nenek lho …”. Saat itu adegan di film porno sedang mempertontonkan si nenek mengangkang lebar, sementara si laki-laki dengan rakusnya menjilati “milik” si nenek.

Pas Budhe mau kucium tiba-tiba terdengar suara pagar dibuka. Budhe kaget dan lari ke arah kamar mandi.

“Ssssttt …”, kukasih isyarat pada Budhe untuk diam.

Pelan-pelan kuintip dari korden. Rupanya tetangga kamar kosku sedang membawa masuk seorang tante-tante gembrot yg juga sudah agak tua.

“Ooh, ternyata yg suka wanita tua bukan aku aja”, pikirku.

Aku yakin temanku pasti mau “begituan” juga sama tante-tante itu. Budhe Haryani kukasih kode untuk mendekat ke jendela.

“Tuuh liat, Budhe. Temanku aja suka sama tante-tante”.
“Tapi, mas …”, belum lagi Budhe Haryani selesai bicara kudorong tubuhnya ke tempat tidur lalu kugumuli dia. Jamu yg kuminum benar-benar sudah bereaksi.

“Senjataku” sudah sangat tegak berdiri. Sambil melepas baju kuciumi Budhe Haryani dengan penuh nafsu. Begitu aku sudah bugil, ganti baju Budhe Haryani kutanggalkan satu persatu. Dia hanya pasrah ketikatubuhnya benar-benar bugil. Semok banget nenek-nenek ini, kataku dalam hati.

Payudaranya sudah melorot dan melebar, tapi berisi. Perutnya berlipat lemak agak buncit khas wanita baya. Budhe Haryani rupanya sudah mulai terangsang. Ia memberiku isyarat agar aku segera menyetubuhinya. Tak kugubris permintaanya. Kuangkat paha Budhe Haryani, lalu kuterkam

“miliknya” dengan lidahku. Aromanya khas banget.
“Masssss, jangan, … jijik masss …”, desah Budhe Haryani Aku malah makin rakus menjilati “miliknya” yg telah basah berlendir dan licin.

Rasanya agak asin. Kupuas-puasi mulut dan lidahku menjelajahi rongga kemaluannya. Sesekali kugigit-gigit dengan gemas “kacangnya” hitam kemerahan, sesekali kutarik dengan bibirku.

“Ennnaaak, masss … Oohhh”, Budhe Haryani menggelinjang dan mengerang.

Pinggulnya bergoyg-goyg mengimbangi pagutanku di “miliknya”.

“Massssssss, … akkkhhhhhhhhh ennnnnnnnnaggggggggghhhh, mmmmmmmaassssshhhhhh … Budhe mau kencing, masssshhhh … okkkhhh …”, erangan Budhe Haryani makin menjadi-jadi seperti orang kesurupan.

Aku tahu dia mau orgasme.

“Masssss, nggak kuat, masss, … syyyyyyuhhhhhh,,,,ppyyyyyhhhhhh rrrrrrhhhhh syyyyyrrrr …”, terasa makin basah “milik” nenek-nenek ini. “Okkkhhhhhhhhhkkkhhhhhhhhhhhh, … okkkkhhhhhhhhhhhh, enak banget, masss …”,
“Budhe curang. Aku ‘kan belum keluar, Budhe”, aku merajuk.
“Senjataku” sedikit mengendur setengah tegang.
“Ntar ah, Budhe mau pipis. Mas ini nakal, masa nenek-nenek digituin”, kata Budhe Haryani sambilngeloyor ke kamar mandi.

Ketika dia mau memakai selimut untuk menutupi tubuh semoknya.

“Eitss, nggak boleh. Budhe nggak boleh pakai ini. budhe harus bugil”, kataku sambil menarik selimutnya.

Begitu keluar dari kamar mandi kuminta budhe nungging, lalu kujilati bokong semoknya

“Mas nakal banget siiihhh … Sekarang kok malah bokong budhe dijilatii”.
“Aku udah nggak tahan, Budhe”. Kusuruh dia telentang dan langsung kubenamkan “milikku” ke dalam “milik” nenek- nenek semok itu.

Kemudian kugoyg Budhe Haryani dengan penuh nafsu yg meledak-ledak. Meskipun dia sudah tak muda lagi, tapi rasanya nikmat sekali sampai aku tak mampu menahan orgasme. Cairanku tumpah ruah di dalam “milik” Budhe Haryani. Dengan nafas memburu aku berbaring di samping Budhe Haryani. Setelah nafas kami tenang, kami sama-sama ke toilet. Dari toilet aku dan Budhe Haryani kembali tiduran di tempat tidur sambil ngobrol-ngobrol.

“Udah berapa banyak wanita-wanita baya yg mas nikmati?”, tanya Budhe Haryani.
“Ah, budhe ini …”, jawabku tersipu.
“Abis mas ini aneh siihh, sukanya sama nenek- nenek”. Aku berterus terang padanya kalau aku sering onani untuk melampiaskan nafsuku.

Lalu Budhe Haryani cerita kalau dia pernah sekali diperkosa oleh majikan laki-lakinya waktu istri majikannya pulang ke Singapura. Akhirnya dapat juga aku bercinta sama nenek- nenek yg baru ku kenal itu. Aku tidak perlu lagi cari PSK STW karena setiap hari Minggu aku dan Budhe Haryani kencan di Hotel L untuk melampiaskan nafsu birahi kami.

Incoming search terms:

  • stw binal
  • cerita seks paruh baya
  • cerita paruh baya
  • cerita stw binal
  • bude binal
  • cerita sek paruh baya
  • cerita setengahbaya
  • cerita seks separuh baya
  • cerita mesum paruh baya
  • cerita dewasa wanita setengah baya

Tags: #cerita dewasa #cerita mesum #cerita ml #cerita ngentot #cerita porno #cerita sex #sedarah #terbaru

Play Klik Disini